Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opiniku. Tampilkan semua postingan
Safiamita
Si Kakak sebenarnya sudah lumayan cukup dewasa untuk diajak ngobrol mulai dari yang gak serius sampai yang serius. Sepotong obrolan kita tadi malam pas pulang adalah kenapa kakak gak suka nyanyi? Si kakak sih jawabnya suara kakak gak bagus katanya
Masa sih? dulu pas TK, bu guru nya si Kakak usul ke bunda biar kakak di les in vokal soalnya karena kata bu guru pas latihan nyanyi, suara kakak satu-satunya yang masuk nadanya.
Tapi dulu bunda gak mau karena dalam agama islam, suara wanita itu adalah aurat, bunda nya gak mau menanggung dosa tiap kali anak perempuannya nyanyi. Si kakak juga paham kalau suara perempuan adalah aurat. 

Mungkin kalau mau di les in vokal, Alya yang suaranya paling bagus di rumah, kalau diasah bisa jadi suaranya, tapi ya itu... makanya gak ada yang di les in vokal di rumah. 
Bundanya pingin anak-anak nya jadi ladang amal buat bunda dan Ayah dan buat mereka sendiri.
Apa yang kira2 dilarang sama agama, dicoba untuk di hindari aja.
se simpel itu pemikiran bunda, nak...
Safiamita
Karena kemarin ada yang cerita tentang seorang bayi yg masuk rumah sakit karena ibu nya baby blues, jadi terlintas untuk menulis ini....
Kata nya temen itu, asi ibu nya gak keluar selama 2 hari, jadi bayinya nangis terus, akhirnya di hari ketiga masuk rumah sakit lagi dan akhirnya meninggal...
Saya juga gak begitu jelas ceritanya gimana....
Tapi ada hal yang pingin saya tekankan....
Asi memang paling utama buat bayi, tapi yang lebih utama lagi adalah keselamatan bayi itu sendiri.
Klo memang asi belum keluar, sebaiknya jangan dipaksakan....
Susu formula kan juga gak haram untuk diberikan kepada bayi...
Apalagi klo sampai mengancam keselamatan jiwa nya.
Kadang kita terlalu banyak membaca, apalagi di era keterbukaan media kayak gini..
tanpa sadar jadi terdoktrin dengan hal-hal yang kita baca padahal, bisa jadi hal itu gak cocok sama kondisi yang kita alami.

Saat persalinan dan perawatan setelahnya adalah saat-saaat yang kritis menurutku.... 
Resikonya harus ditanggung oleh bayi seumur hidupnya klo ada kesalahan di saat-saat itu...
Dulu ada juga pengalaman seorang kenalan. Jadi kenalan saya itu gak mau operasi cesar karena saudaranya ada yang meninggal dunia karena operasi.  Ketika lahiran anak pertama tetep mau normal. Setelah masuk rumah sakit, maghrib, ketubannya udah pecah, tp bayinya gak mau turun juga. di kasih induksi sama dokter. sampe maghrib besoknya juga blm mau keluar, akhirnya cesar juga. kondisi kepala bayi meluncip karena lama kejepit di jalan lahir. Kondisinya ternyata, bayinya besar, jadi gak bisa lewat pinggul ibu. Anaknya itu gak langsung nangis ketika lahir. Sekarang anaknya autis, dan sampe umur 3 th blm bisa bicara... 
Memang semua sudah takdir, tp hikmah yang bisa diambil menurut saya, klo bisa gak usah memaksakan. Percaya pada tenaga medis atau dokter yg lebih ahli dan harusnya lebih tau seperti apa kondisi kita. seperti yang saya tulis diatas tadi, kadang kita kebanyakan baca hal2 yg mungkin gak sesuai dgn keadaan kita sendiri, misal lebih baik normal dari cesar. itukan kondisi normal, klo ada ada kondisi diluar normal, jangan memaksakan diri karena keselamatan bayi jadi taruhannya.
Ini hanya opini saya...
Menurut saya keselamatan adalah hal yang utama, jangan sampai anak-anak kita yang menanggung akibatnya. Jangan ragu untuk bertanya pada orang yang kita anggap lebih tau. 

Safiamita
Dari dulu menurut saya menjaga pergaulan anak sedari kecil itu sangat penting, karena mereka belum bisa membedakan mana yang baik atau yang buruk untuk mereka. Salah satu alasan juga kenapa saya ngotot menyekolahkan anak-anak di Plagrup Islami, TK islami dan SD yang islami walau harus mengeluarkan biaya ekstra. Agar mereka akrab dengan agamanya, tidak asing dengan agamanya dan terpelihara untuk tetap di agamanya, supaya agama menjadi pondasi dalam hidup mereka. Selain pergaulan di keluarga dan dirumah, menurut saya sekolah juga menjadi bagian yang penting dalam hidup mereka karena sepertiga waktu mereka dalam satu hari dihabiskan bersama teman-temannya di sekolah. 
Beruntung juga hidup di kota seperti Semarang, yang masih kondusif, gak kayak Jakarta..
Baru aja ngobrol sama temen di Jakarta yang anaknya sebaya dengan Kakak Mita. Katanya lingkungan disana kurang mendukung, anak2 nya jadi harus terus diperhatikan dan diawasi. 
Kakak Mita juga sudah beranjak ABG, tapi alhamdulillah sampe detik ini belum pernah nyinggung atau nanya2 tentang pacaran. Kakak juga bukan penggemar katty Perry, dsb. Belum kenal dia dengan penyanyi asing begitu. Dia masih suka sama cherrrybelle. Tontonan favoritnya di TV masih barbie, upin ipin atau boboiboy. 
Kakak dan adik-adiknya juga udah terbiasa berkerudung, gak cuma pergi ke sekolah, pergi jalan2 bareng kita pun sudah mulai membiasakan diri pakai kerudung. 
Kakak udah khatam belajar qiro'ati di kelas 4 SD. Ngaji nya juga sudah jauh lebih bagus dari bunda dan Ayahnya.
Smoga ke depannya Kakak, Mbak Nabila dan Teteh Alya tetap terjaga dan selalu nerada di jalan-Nya, aamiin....
Saya hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan mengarahkan mereka. Karena berdasarkan pengalaman, yang penting untuk ditanamkan kepada mereka adalah ketaatan karena pemahaman bukan ketaatan karena keharusan. 
Ketika Kakak duduk SD kelas 1, dia udah mulai dibiasakan puasa Ramadhan  penuh satu hari. Pernah sekali, siang dia main ke rumah temennya, pulang2 kok kayaknya seger banget ini bocah. Selidik punya selidik, ternyata di sana dia minum walaupun gak mau ngaku. Waktu itu, kita gak maksa dia buat ngaku, tapi cuma bilang, walau ayah atau bunda gak liat Kakak minum, tapi Allah liat. Jadi walau kakak bisa bohong sama ayah dan Bunda, Kakak gak bisa bohong sama Allah. Puasa kakak kan buat Allah, bukan buat ayah atau bunda. Ketika itu dia hanya diam mendengarkan, gak bereaksi. Tapi sejak itu dia gak pernah mencoba lagi minum diam2 ketika sedang berpuasa. 
Kakak memang tipe nya begitu, dia gak bisa menjadi patuh hanya karena diharuskan begitu, dia harus paham dulu. Ketika dia sudah paham, tanpa disuruh atau diawasi pun dia pasti kerjakan.



Safiamita
Beberapa waktu yang lalu sering terlibat dengan pembicaraan yang bertopik : naik haji. 
Banyak teman2 yang sudah mendaftar untuk berangkat haji. Tapi ketika ditanya, ternyata orang tuanya belum berangkat haji. Menurut mereka, karena mereka yang mampu, jadi mereka yang duluan wajib berangkat, setelah itu mungkin baru mereka menabung lagi untuk memberangkatkan orang tuanya. 
Klo menurut saya pribadi, sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saya...  alangkah baiknya kalau mendahulukan orang tua dulu untuk berangkat haji. Klo hitung-hitungan umur, mungkin kita masih punya peluang untuk hidup lebih lama dari mereka yang sudah tua. Biarlah mereka dulu yang berangkat, semoga setelah itu Allah berkenan untuk memanjangkan umur kita, melapangkan rejeki kita, dan memanggil kita untuk bisa berangkat ke tanah suci. Kebanyakan, kalau ditanya, hampir setiap orang tua ingin berangkat haji sebelum akhir hayat mereka, hanya mungkin terkendala biaya. Kalau dihitung2, biaya haji memang besar. Tapi coba dibandingkan dengan biaya orang tua merawat kita sampai kita bisa berhasil seperti sekarang, ditambah dengan kasih sayang mereka merawat kita sampai dewasa? Kita bisa berhasil sampai detik ini pun karena ada orang tua yang membuat kita seperti ini.. Rasanya biaya haji tidaklah sebanding dengan perjuangan mereka untuk kita, anak2 nya... 
Jadi menurut saya tidak ada salahnya kita membuat orang tua kita termasuk kategori mampu menjalankan ibadah hadi dengan memampukan mereka untuk berangkat dari sisi biaya/finansial. 
Mumpung orang tua masih ada, bahagiakanlah semampunya. Kalau nanti sudah gak ada, hanya doa yang bisa dikirimkan.
Safiamita
Kalimat itu seriing sekali terlontar dulu ketika kesal dengan orang lain, yang rasa-rasanya kita sudah bersikap baik pada mereka tapi mendapatkan feedback yang tidak baik....
Sang Suami lah yang selalu mengingatkan, "Dengan berkata begitu, itulah yang menjadi "kurang baiknya" dirimu... Mengungkit-ungkit kebaikan yang telah diberikan pada orang lain hanya melunturkan pahala dari kebaikan yang telah kita lakukan. Bukankan kita jadi rugi 2 kali? sudah mendapatkan perlakuan yang tidak baik, pahala atas kebaikan yang sudah dilakukan pun melayang. Itu menandakan bahwa kita kurang ikhlas dalam melakukan kebaikan." 
Kalau dulu... semua kata2 nya pasti ku bantah dengan argumen, "wajar kan sebagai manusia biasa kita kesal karena perlakuan yang gak baik dari orang lain?" 
tapi sekarang... setelah umur bertambah.. banyak yang sudah dialami... ketika melihat orang lain yang bersikap seperti aku... lalu berkata " coba, kurang baik apa aku?" sambil mengungkit2 perbuatan baiknya pada orang lain...
Aku jadi merasa kasihan... karena sudah capek2 berbuat baik malah gak dapat apa2....
Sekarang aku sepakat dengan Sang Suami...
Ikhlaskan saja lah...
Jangan berpikir kita sudah baik atau paling baik...
Amal kebaikan toh gak akan tertukar. 
Jangan mengharap pada makhluk, berharap pada Sang Pencipta nya saja
Karena sekali nya berharap pada manusia nya, siap2 kecewa yang diterima.

Safiamita
Adalah jurus baru yang didapat dari belajar dengan seorang kawan. Biasanya sering merasa 'tersiksa' kalau harus mendengarkan seseorang mengeluhkan sesuatu  tentang orang lain... Nah, pada suatu ketika diriku dan seorang teman dihadapkan pada situasi yang sama, si temen itu hanya manggut-manggut mendengar hal yg sama dengan yang kami dengar. Ketika kami ditinggal hanya berdua, hal itu kutanyakan kepadanya... tidak kah dia merasa tidak suka atau bersalah karena sudah mendengarkan hal itu? walau tidak membicarakan tapi kan mendengar juga ikut bersalah? 
Dia hanya bilang... yaa trus mau gimana lagi? Gak bisa dihindari... akhirnya manggut2 aja.. tapi masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Gak usah dipikirin dan jangan dimasukkan kedalam hati. Hmh... awalnya aku belum sepakat dengannya.. tapi... akhir2 ini sepertinya aku harus sepakat... karena dalam pergaulan sehari2 hal2 seperti ini sering kali terjadi... 
kalau yg berbicara itu adalah orang yang lebih muda dari kita mungkin situasinya akan lebih mudah karena kita bisa langsung menasehati mereka klo hal itu sebaiknya tidak dilakukan... tapi kalau untuk orang2 yang lebih tua, akan banyak rasa sungkannya.... selain itu.. kalau orang lebih tua yg curhat, biasanya mereka hanya butuh didengarkan... bukan untuk meminta solusi.. jadi ya.. demi menjaga perasaan semua orang, manggut- manggut adalah hal yang menjadi alternatif pilihan... walau tidak berarti kita setuju dengan apa yang dibicarakan. 
Karena aku belum mampu untuk mencegahnya dengan perbuatan.. aku memilih selemah-lemahnya iman, dengan tidak menyukai hal itu didalam hati. Aku juga orang yang suka curhat pada orang2 yang dipercaya tapi jarang sekali menyebut nama, lebih sering menyebutnya dengan si anu atau si fulan... menghindari sebisa mungkin tidak membicarakan objeknya.. hanya perbuatannya saja yang saya tidak suka.
Demikanlah yang tiba-tiba terlintas menjelang isya' malam ini.
Safiamita
Saya selalu suka dengan orang-orang yang bertanggung jawab, orang-orang yang menunjukkan karya nyatanya untuk negeri, walau kadang juga dihujat atau dimusuhi oleh orang lain. Saya suka orang-orang seperti Ibu Sri Mulyani, Pak Darmin Nasution, atau Pak Budiono. Walau hanya mengenal mereka dari jauh, mengenal mereka dari TV, koran ataupun opini-opini dan tulisan yang mereka buat.
Kali ini saya suka Bapak Dahlan Iskan. Beliau sudah menunjukkan langkah yang nyata buat Indonesia. Klo dari Pak DI, saya juga sangat suka membaca tulisan-tulisannya yang enak sekali untuk dibaca. Alurnya mengalir, dan sangat inspiratif. Terkadang, saya ingat Beliau hanya sebagai seorang Menteri, bukan sebagai seorang jurnalis. Sebagai seorang jurnalis, tentunya menulis adalah keseharian Beliau. Ide-ide untuk negeri ini yang beliau ceritakan di artikel2nya juga menjadi harapan baru untuk orang lain yang membacanya bahwa negeri ini pasti bisa jadi lebih baik lagi.

Di Dunia maya, bahkan sudah ada yang membuat http://dahlanis.com/ yang merupakan suatu KOMUNITAS yang berawal dari Group jejaring Sosial Facebook yang di dalamnya beranggotakan para pendukung Bp. Dahlan Iskan dalam rangka bekerja untuk dan Demi IndoneSia.

Isi Web nya antara lain tentang tulisan Dahlan Iskan yang di muat di berbagai Media atau juga opini-opini orang tentang Dahlan Iskan yang ada di berbagai media.
Semoga Beliau selalu dapat menjalankan Amanah yang diembannya sekarang, smoga Allah SWT juga senantiasa melindunginya, smoga selalu bisa berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, amiin...

Terakhir, saya juga mengagumi Dia, seseorang yang berada dekat di hati saya. Walaupun dia tidak se-terkenal Bapak Dahlan Iskan, kiprahnya tidak se besar Bu Sri Mulyani, tapi Dia sangat berarti buat hidup saya. Saya belajar banyak hal dari dia. Baginya bekerja di instansi ini tidak hanya mencari nafkah untuk keluarganya, tapi separuhnya adalah pengabdian untuk Bangsanya. Lewat instansi tempat kami bekerja sekarang ini, pajak dikumpulkan untuk membiayai negara, untuk kehidupan bangsa yang lebih baik, untuk jamkesmas, untuk pendidikan anak-anak bangsa yang kurang mampu, untuk pembangunan infrastuktur dan masih banyak lagi manfaat lainnya. Kalau mau mencari penghasilan lebih, dengan posisinya dan koleganya sekarang, mungkin bisa saja dia berpindah kerja dengan penghasilan yang lebih besar, tapi itu tidak Dia lakukan karena buat Dia, separuh hidupnya adalah pengabdian. Walau kadang saya suka mengeluh karena itu membuat hidup saya terpisah dari nya seperti sekarang, tapi disisi lain, saya sadar bahwa itu lah salah satu hal yang membuat saya semakin mencintainya...
Smoga bisa selalu amanah ya... amiin...
Safiamita
Sejak menikah 9 tahun yang lalu, rasanya baru satu kali bisa merasakan ber lebaran di kampung sendiri, sisanya dihabiskan di kampung orang....
Ada yang di Lampung, Jakarta, Jepara, Jogja dan Semarang.
Banyak hal dan pengalaman baru yang dialami di kampung orang saat lebaran, terutama kebiasaan2 baru dalam menyambut lebaran.
Tapi tetap saja merindukan suasana lebaran di Kampung sendiri....
Kangen sekali rasanya dengan suasananya, dengan makanannya dan segala kemeriahan menyambut lebaran di Palembang. Sudah lama juga gak ketemu teman2 lama, mulai dari teman SD, SMP, SMA sampai kuliah.
Kira2 kapaan ya, bisa merasakan lebaran di Palembang lagi?
Smoga Tahun Depan deh, bisa merasakan hiruk pikuknya lebaran disana, amiiin...
Safiamita
Apa yang dimaksud dengan adil?
Apakah semua dibagi sama rata ?
Ataukah dibagi sesuai dengan porsinya?
Terkadang susah untuk menerapkan apa yang di sebut adil itu.
Mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang sulit.
Contoh gampangnya adalah bersikap pada anak-anak.
Setiap membeli sesuatu sekarang harus beli 3, karena dirumah ada 3 anak perempuan.
Beli baju, 3. Beli buku, 3. padahal yang nomor 3, Alya belum bisa lho...
Dengan alasan demi azas keadilan, jadilah tetap beli 3.
Tapi ternyata hal tersebut gak bisa diterapkan di semua hal. Ada saat kalau Kakaknya yang butuh sesuatu, Kakaknya aja yang dibeliin sesuai dengan kebutuhannya, klo adek nya gak butuh kan buat apa dibeliin?
Jadi adil tetap aja melihat kondisinya, bukan berarti sama rata itu selalu berarti adil. Adil itu adalah sesuai dengan porsinya, itulah kesimpulanku.


Safiamita
Pernahkah terbayang apabila pasangan hidup kita harus berpulang lebih dahulu kepada Yang Maha Kuasa?
Apa yang harus kita lakukan? Aku juga tak pernah terbayang bila hal itu terjadi....

Terkadang pemikiran kita dalam menyikapi segala sesuatu dipengaruhi juga oleh lingkungan dimana kita menghabiskan hidup, berkembang sesuai dengan adat istiadat dan budaya yang ada di sekitar kita. Apa yang dianggap benar disana, biasanya itulah yang menjadi kebenaran untuk kita.  Karena aku sampai masa remaja tinggal di lingkungan keluarga di Palembang, yang apabila seorang istri ditinggal meninggal dunia oleh sang suami, biasanya sang istri gak akan menikah lagi. Mereka lebih fokus untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya saja, menjadi orang tua tunggal, berjuang sendiri untuk hidup anak-anak mereka. Klo suami yang ditinggal istri, ada yang menikah lagi tapi ada juga yang memilih tetap sendiri dan membesarkan anak-anak mereka sendiri. Dari lingkungan keluarga besar sendiri, ada 2 orang dari saudara Ayah dan 3 orang dari saudara Ibu yang suaminya meninggal ketika anak-anaknya masih kecil, namun mereka tidak berpikir untuk menikah lagi. Singkatnya, dulu itu yang ada dipikiranku, seperti itulah langkah yang benar. Harusnya klo ditinggal meninggal oleh suami/istri, gak usah menikah lagi... Urus aja anak-anaknya baik-baik. Klo ada yang ditinggal suami atau istri meninggal lalu mereka menikah lagi, aku memandangnya seakan-akan itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap istri/suami yang meninggal trus kasian juga sama anak-anaknya klo harus punya ayah/ibu tiri. Paradigmanya, ayah/ibu tiri pasti gak besikap baik pada anak-anak tiri mereka. Makanya aku selalu memandang sinis, klo ada yg ditinggal suami/istri meninggal dunia lalu mereka menikah lagi. Apalagi klo yang meninggal itu belum lama, istilahnya tanah kuburannya aja belum kering tapi sudah menikah lagi. 
Pemikiran itu bertahan sampai aku kuliah di kampus STAN tahun 2006. Ketika itu bertemu dengan seorang dosen laki-laki yang masih muda dan punya 2 orang anak yang masih kecil-kecil. Beliau sempat bercerita sedikit tentang hidupnya ketika perkenalan kuliah perdana. Beliau bercerita kalau istrinya meninggal ketika melahirkan anak ke-3. Setelah proses persalinan, anak ke-3 nya tidak bertahan hidup, lalu keesokan harinya, Sang Ibu menyusul.. Beliau bilang, 3-4 bulan setelah sang Istri meninggal, beliau masih larut dalam kesedihan tapi seiring berjalannya waktu, Beliau berpikir bahwa hidupnya dan anak-anaknya tetap harus berjalan, bahwa ternyata hidupnya tidak terhenti ketika sang Istri meninggal dunia... Beliau masih punya 2 anak yang harus diurus. Akhirnya beliau bisa bangkit dari kesedihan dan memutuskan untuk menikah lagi, demi anak-anaknya juga.. agar ada yang merawat, mendidik dan membesarkan mereka. Alhamdulillah, sang Ibu tiri sangat baik kepada anak2nya, dengan mudah dapat menyesuaikan diri dan bisa diterima oleh anak2nya. Untuk yang terakhir ini, sudah kubuktikan sendiri, pernah bertemu keluarga mereka dan melihat kedua anaknya begitu akrab dengan sang ibu tiri dengan bergelayut manja di lengannya. Begitulah, beliau menutup ceritanya dengan kesimpulan bahwa, keputusannya untuk menikah lagi bukan berarti bahwa Beliau tidak mencintai istrinya yang telah meninggal, tapi hidup harus terus berjalan dan menikah adalah pilihan nya untuk melanjutkan hidupnya dengan berbagai pertimbangan....
Saat itulah, seperti mendapat pencerahan dan pemikiranku berubah.. tidak lagi memandang sinis dan berpikiran sempit terhadap orang yang menikah lagi setelah ditinggal meninggal dunia oleh suami/istri.. Ternyata ada banyak pertimbangan disana, dan menikah lagi itu pun tidak bisa disebut sebagai sebuah pengkhianatan... 
Yang terpenting adalah hidup harus terus berlanjut, terserah pada yang punya hidup, untuk menjalani hidupnya dengan tetap menjadi single parent atau mendapatkan pasangan yang baru, yang terpenting adalah semua langkah dipikirkan dengan matang dan dapat mendatangkan kebaikan untuk semua, terutama untuk anak-anak yang ada diantara mereka.
Safiamita
hmh... dari hasil diskusi yang panjang dengan sang suami, kira2 beginilah kesimpulannya...

Ketika aku menanyakan bagaimana klo dalam satu rumah tangga sudah tidak ada cinta antara suami istri? Kira2 begini jawabannya :

Mungkin ketika diawal pernikahan, yang mendasari kita untuk menikah adalah saling cinta tapi kemudian dikuatkan dengan komitmen pernikahan, Pernikahan adalah ikatan yang kokoh (klo menurut agama). Mungkin cinta itu bisa luntur seiring dengan waktu, atau sempat mengalami kejenuhan antara pasangan, tapi tidak serta merta menjadikan orang memutuskan bercerai karena sudah tidak cinta lagi. Yang lebih menguatkan kehidupan berumah tangga adalah komitment tadi...

Kita sudah berkomitmen untuk bersatu dalam ikatan pernikahan dihadapan Tuhan, dan komitmen itulah yang lebih menguatkan dari cinta...

Selain itu, bukankah cinta juga bisa diciptakan?

Tergantung dari individunya sendiri kan?

Mungkin ketika diawal memutuskan untuk menikah, juga harus memikirkan apa yang akan kita jadikan pondasi/dasar dari rumah tangga yang akan kita bangun.

Sehingga, ketika diperjalanan nanti, bila terjadi perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, atau konflik kepentingan, kita tau kemana harus mengacu kemana.

Klo kita berdua sepakat, ketika semua itu terjadi, maka mari kita kembalikan ke hukum agama, ke Al Qur'an dan hadist..

Jadi ketika berdua tidak menemukan titik temu, jalan tengahnya adalah agama.

Apa yang harus dilakukan menurut agama, itulah yang harus kita jalankan.


Kira2.. begitulah kesimpulannya. Bisa jadi pengingat juga untukku bila suatu saat agak keras kepala dari sang suami, hehe...

karena Al Qur'an dan hadist itu berasal dari Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan hukum tertinggi dalam menjalankan hidup, yang harus lebih kita taati dari apapun yang ada didunia ini, termasuk dari ego kita sendiri.

Klo kata Agama, kita harus patuh pada suami, maka patuhlah pada suami sepanjang itu dalam kebaikan dan tidak melanggar hukum agama itu sendiri.


Pasti akan sulit saat semuanya bertentangan dengan ego dan keinginan, tapi harus selalu berusaha. Karena semua itu termasuk dalam komitmen yang telah kita buat saat kita memutuskan untuk menikah dan memilih sang suami sebagai pendamping dan pemimpin kita...


Safiamita
Apa sebenarnya definisi dari orang baik?
Apakah orang baik itu adalah orang yang tidak pernah salah?
Apakah klo ada orang yang salah, menyadari kesalahannya lalu meninggalkan perbuatan yang salah itu tidak dapat lagi disebut sebagai orang baik?

Menurutku sendiri, ketika seseorang melakukan kesalahan lalu menyadari kesalahan itu kemudian meninggalkannya, dia bisa dikategorikan sebagai orang baik.
Mengapa penting menjadi orang baik?

Karena menurutku, Allah sayang pada orang-orang yang baik..
Manusia juga menyukai orang2 yang baik..
Tidak ada manusia yang suka disakiti atau dizholimi...

Tapi bukan hal yang mudah untuk menjadi baik...
Sepertinya lebih gampang menjadi orang jahat dari pada orang baik.
Tapi disitulah letak tantangannya
Mari terus berusaha, kita juga akan dinilai dari usaha bukan hanya pada hasilnya. :)
Safiamita
Sedih Tak Berujung - Glenn Fredly
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net

saat menjelang hari-hari bahagiamu
aku memilih tuk diam dalam sepiku
saat mereka tertawa di atas pedihku
engkau cintaku yang telah pergi tinggalkanku

aku tak peduli, sungguh tak peduli
inilah jalan hidupku

kini aku kau genggam hatiku
simpan di dalam lubuk hatimu
tak tersisa untuk diriku
habis semua rasa di dada

selamat tinggal kisah tak berujung
kini ku kan berhenti berharap
perpisahan kali ini untukku
akan menjadi kisah sedih yang tak berujung


Apapun yang telah terjadi pada masa lalu entah itu adalah hal yang baik atau yang buruk, pasti dapat kita jadikan pelajaran untuk melangkah di masa depan. Supaya nanti kedepannya gak salah langkah atau kehilangan arah atau bisa juga mengulang kesalahan yang sama.
Pasti ada hikmah yang bisa diambil dari setiap peristiwa yang terjadi. Dan gak bisa dipungkiri bahwa apa yang terjadi dimasa lalu adalah batu pijakan yang menjadikan kita menjadi seperti kita sekarang.

Sudah diusahakan agar sejarah itu gak berulang, agar semua yang telah terjadi bisa diambil pelajaran, bukan untuk diulang. Karena bukan hal yang baik untuk diulang, menurutku. Doa dan harapku semoga tak kan terulang. Agar tak ada yang merasa nelangsa di tengah kebahagiaan yang lain.
Biarkan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya... Terimalah takdir itu apa adanya.
Jangan sampai malah membuat diri jadi susah sendiri..
Bukankah hidup ini harus terus berjalan? Walaupun apa yang semua kita inginkan, gak semuanya bisa kita dapatkan. Semua pasti ada ujungnya.. Bahkan hidup kita di dunia ini pun pati ada ujungnya...

Yakinlah, pasti Allah punya rencana yang lebih baik untuk kita maka jalanilah hidup ini dengan penuh tanggung jawab. Jangan mudah menyerah dan putus asa.
Semangat !!!
Safiamita
Hari ini, anak anak d3 yang magang di kantor penempatan. Ada yg dapat di Ketapang, ada yang di Ende, ada yg di Meulaboh, bahkan ada yang harus merantau sampai manokwari..
Yah, mungkin memang harus dijalani...
Jadi teringat 10 tahun yang lalu, oktober 2000.. Kita juga mengalami penempatan pertama walau karena hanya lulusan Prodip 1 Palembang, jadi penempatannya hanya sebatas kanwil Sumbagsel, di kisaran seputar wilayah Palembang, Lampung, Jambi sampai Bangka Bengkulu. 12 dari 38 orang dapat penempatan di Metro Lampung.. 
Ketika itu aja rasanya sudah sangat bingung, gimana nanti disana, tinggal dimana, mau makan apa. Tapi akhirnya tetup harus berangkat jua, dengan uang seadanya..
Ibarat burung, itulah saatnya kita keluar dari sarang mencoba hidup mandiri di kehidupan nyata yang sebenarnya, jauh dari orang tua.
Tanggal 23 oktober pertama kali bekerja, masuk kantor.
Sehari itu rasanya setahun.. apalagi Metro kota kecil, kalah jauh klo di banding Palembang. Kantornya aja dikelilingi sama hamparan sawah, klo di Palembang mana nemu lagi sawah. Klo malam hiburannya suara jangkrik, krik.. krik...
Tapi lama2 juga jadi biasa. Karena memang harus dijalani dan dinikmati. Dapat teman baru, keluarga baru. Alhamdulillah pada kompak2 disana... mungkin karena sama2 merasa senabib seperjuangan sebagai perantau.
Jadi untuk adik2 yang baru penempatan, selamat berjuang, dimanapun kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya.. siapkan diri sebaik2nya karena semua ini memang harus dijalani. Untuk awalnya, pasti ada kegalauan, kebingungan dan tanda tanya, bagaimana nanti disana, gimana lingkungan kerjanya, orang2nya...
Tapi dengan waktu, kita pasti bisa bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. jangan pernah putus berdoa agar selalu dekat dengan Nya dan diberikan yang terbaik..
Tetap semangat ya, karena ini juga adalah konsekuensi dari pilihan hidup yang telah kita pilih sendiri.
Safiamita

Wah, baru tau.. ternyata ada indikasi telah membuat kekeliruan ya?

Baiklah, kita sadar bahwa kita terikat pada peraturan yang berlaku, sudah tangan tangan juga pertanda setuju.

Sebagai konsekuensi karena sekarang sudah tau, berarti ada yang harus direvisi.

Dan... Sudah ku revisi smua, smoga setelah ini gak ada masalah lagi karena sekedar menyampaikan apa yang terlintas. :)

Safiamita
kenapa ya, untuk kata 'melupakan' sangat mudah untuk diucapkan tapi sulit sekali untuk dilakukan? Ngiri juga pada tipe orang seperti sang suami, Dia sangat mudah sekali untuk melupakan sehingga tak pernah terpaku pada masa lalu.
Untukku sendiri, mungkin termasuk kategori orang yg susah untuk melupakan. Termasuk bila disakiti atau tidak menyukai sesuatu. Mungkin lebih gampang untuk memaafkan, tapi untuk menghilangkan dari ingatan, susahnya...
Termasuk orang yang gampang merasa trauma untuk hal2 tertentu, terutama yg berkaitan dengan prinsip2 hidup yang diyakini dan dijalani.
Harusnya gak boleh begitu ya?
Yang lalu biarlah berlalu.
Tiap orang pasti pernah berbuat salah.
Mungkin karena semua terlalu dimasukkan ke hati jadinya begini.
Haduuh.. Susahnya..
Harus belajar banyak agar bisa lebih bijak dalam menghadapi hidup.. 
Belajar untuk tidak mudah kecewa pada diri sendiri atau pada orang lain.
Belajar memahami dan mengerti bahwa tiap orang yang punya pemikiran berbeda.
Safiamita
Terus terang, aku juga bukan orang yang pintar berbasa basi dalam berkomunikasi. Biasalah, orang sumatra cenderung lugas dan to the point atas apa yang ingin diutarakan.
Tapi ternyata sekarang melihat ada orang yang lebih tidak pintar berbasa basi lebih dari aku. Sebenarnya, mungkin maksud dari apa yang disampaikan itu benar tapi karena cara penyampaiannya yang kurang pas maka pesannya jadi tak tersampaikan secara benar.
Malah kebanyakan jadi membuat orang tersinggung dan berkecil hati.
Oww... Ternyata memang seni berkomunikasi itu perlu dipelajari ya?
Apalagi untuk seorang pemimpin.
Ya, menurutku yang terpenting adalah belajar untuk menghargai orang lain.
Siapapun yang kita ajak bicara, perlakukanlah sama sebagai sesama manusia yang punya derajat yang sama.
Jangan perlakukan berbeda, klo dengan atasan, hanya bisa berkata iya, baik, dsb. sedangkan dengan bawahan atau orang lain yang kita anggap hirarki nya lebih dibawah kita, kita berbicara semaunya kita dan cenderung arogan.
Kenapa harus seperti itu?
Apakah karena ingin menunjukkan bahwa kita berkuasa? untuk apa? malah menyakiti hati orang lain. Kenapa tidak mencoba berbicara secara bijak?
Ketegasan seseorang tidak terlihat hanya karena dia berbicara keras atau arogan.
Ketegasan juga bisa terlihat pada orang yang santun dalam berbicara tapi tetap pada pendiriannya.
Klo melihat orangnya saja kita sudah malas lalu gimana mau menerima apa yang dikatakan olehnya?
Ayo, belajar menghargai orang lain dan belajar untuk menahan diri, jangan anggap orang lain lebih rendah dari kita. Bukankah Allah menilai manusia dari tingkat takwa nya? bukan dari kedudukannya dalam hidup di dunia ini.
Selama masih ada napas, bukankah kita masih bisa belajar, kata suami tercinta, gak ada yang tidak bisa dirubah selama kita ada kemauan untuk merubahnya.
Semangat !!!!
Ini juga untuk nasihat pada diriku sendiri yang sering terlupa.
Katanya kan, semut di seberang lautan keliatan, gajah didepan mata keliatan.
Tapi bercermin dari orang lain untuk perbaikan diri juga jurus yang ampuh lho untuk memperbaiki diri.
Halah, sudahlah. Malah jadi panjang deh !
Ayo belajar bersama !!! ^_^
Safiamita

Haduuuh.... rasanya ngiri banget sama temen2 yang punya tingkat kreativitas yang tinggi. Dari sekedar hobby bisa sampe menghasilkan uang dari hobby dan kreativitas nya.

I really appreciate it, coz I still can't do it... hehe...


Kayak gambar diatas tuh ! itu hasil karyanya mbak fit, mainan kulkas, Itu pesanan ku dan sekarang dari Bandar Lampung sudah nyampe semarang :)
Anak2 pasti suka, abis lucu-lucu banget. Tadi juga baru liat www.perhiasancantik.com juga beneran cantik2 bros dan perhiasan2nya... hasil handmade juga. kereeen !!!!

Berharap suatu hari bisa juga bikin2 yang seperti itu, tapi kayaknya aku kurang kreatif deh. Kita bakatnya cuma jadi niru apa yang ada doang. ^.^
Lagian hobby utamanya sebenernya sih belanja sama masak. Klo belanja mungkin bisa direalisasikan dengan buka butik alias jadi pedagang baju. Beli baju2 yang kita suka trus dijual lagi. Waktu di Metro sudah sempet jalan, tapi trus berhenti deh, walau sudah balik modal dan dapet untung juga. Karena banyak hal deh.. padahal asyik banget, bisa belanja banyak tanpa harus dimarahin suami, hehe...

Nah, klo di Semarang... tanpa sengaja aja, hobby masaknya tersalurkan. Pernah sekali kita bikin pempek trus di bawa ke kantor. Abis tu, dapet 2 kali pesanan dari temen kantor minta dibikinin pempek. Buat makan2 di kantor juga, tapi kita di bayar :)
Wah, seneng banget rasanya.. walau klo dibanding ama gaji sebulan, masih jauh, hehe...
Tapi rasa senengnya beda lho... :)

Keinginan untuk berwirausaha sering terlintas klo lagi bosen di kantor.
Nongkrong di kantor dari jam 7.30 WIB sampe jam 17.00 wib 5 hari dalam seminggu, jenuh banget rasanya...
Tapi masa kita bawa sulaman ke kantor? heee... bisa diomelin ama orang2 dikantor.
Ok lah, siapapun yang mau berwirausaha, smoga berhasil dan tetap semangat !!!!


Safiamita
By. Rossa

Tergoda aku tuk berfikir
dia yang tercinta
Mengapa tlah lama tak nampak
dirimu disini
Jangankan ingin ku tersenyum
Tak ada gairah
Kuingin slalu bersamamu..
Kini ku resah
Diriku lemah tanpamu..
Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Kuingin bersama berdua selamanya
Jika kubuka mata ini
Kuingin slalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini
Bersamamu.. Aku tegar..


Begitulah kira2 syair lagu yg dinyanyikan oleh rosa diawal tahun 2000, klo gak salah.
Dulu ada seorang teman yang suka banget sama lagu ini.
Jadi ingat lagi karena di masa sekarang ada seorang teman yang bilang gini, " Tegar lah tapi jangan terlalu tegar."
Hemh... kok jadi kepikiran ya?
Mungkin karena menurutku terkadang ketegaran hanyalah sebuah tameng dari kerapuhan yang disembunyikan, sekedar kamuflase aja.
Sesuai dengan lagu diatas lah, dalam ketegaran terkadang kita tidak bisa berdiri sendiri, selalu membutuhkan orang lain untuk membantu kita menjadi tegar atau bangkit dari keterpurukan.
Entah itu pasangan hidup, suami, istri, keluarga ataupun teman. Mungkin itulah makna dari kalimat yang ia lontarkan.
hehe.. kita hanya sekedar menebak aja.. :)
Terkadang menemui seseorang yang terlihat begitu optimis dan tegar dalam menghadapi hidupnya, tapi bila kita berkenan untuk mengenalnya lebih jauh.. pasti ada kerapuhan yang juga terlihat disitu.
Itulah hidup, selalu ada 2 sisi seperti mata uang dan itulah yang membuat hidup ini jadi seimbang. Sekedar opini yang terlintas ^.^
Safiamita
Andai kau tau apa artinya merindu
Andai kau tau bagaimana rasanya menunggu
Mungkin tak kan kau biarkan aku menantimu
Hanya mampu bertemu denganmu di ruang rindu

Hmh... itu untuk zaman dulu kali ya?
hanya bisa menyimpan di dalam hati.
Klo sekarang, seberapapun terpisah oleh jarak dan waktu
Tinggal angkat HP, Email, Facebook, Gtalk...
Maka selesailah semua jarak dan waktu tersebut :)

Alhamdulillah, hidup di masa sekarang.
Walau berjauhan tapi komunikasi tetap jalan.
Tiap hari bisa telepon, bisa pake 3G juga.

Tentang tautan hati itu menurutku beneran ada kok....
Dulu sempat gak percaya, karena satu dan lain hal.
Tapi sekarang sudah mulai merasakan dan mulai mempercayainya
Apalagi dengan keluarga atau dengan orang2 tercinta.

Mungkin contoh kecilnya, ketika kita mau telp mereka disana, sudah keduluan ditelp. Bisa jadi juga kebetulan, tapi seringnya begitu dan aku percaya karena ada ikatan hati yang tak terlihat :)
Related Posts with Thumbnails

Galeri