Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Safiamita
I'll Just Live Like This.....
kata-kata yang sering terlintas di pikiran sekarang

Akhir2 ini berasa banyak yang berubah.....
mulai dari yang biasanya talkactive jadi gak punya bahan omongan untuk diobrolkan...
Mulai dari ekstrovert menjadi introvert...

Banyak yang berubah akhir-akhir ini.. mungkin setahun terakhir...
karena perubahan ini adalah pilihan yang dipilih sendiri....
Jadi dijalanin dengan penuh tanggung jawab pilihan ini...

Pada awalnya merasa penuh dengan beban tapi kesini nya semua mulai berasa ringan...
mulai terbiasa dengan semuanya....

dan yang terakhir terlintas adalah :

I Must be Happy
Aku harus bahagia

Jangan biarkan perasaan negatif, prasangka, rasa iri dan sikap orang lain membuat kita jadi tidak bahagia.

We can die anytime so enjoy your life.
Hidup hanya sekali
Jangan lupa bersyukur

That's All for now....
Safiamita

Si Mbah ini klo diperhatikan setiap jumat pasti nungguin di depan sekolahnya anak2. Ternyata banyak anak2 yang ngasih sedekah ke mbahnya. Ya, jumat barokah, insyaAllah. Mengajarkan anak-anak untuk berbagi dan peduli pada sekitarnya juga.
Safiamita
Klo mau jujur, sebenernya saya termasuk tipe introvert. Walau mungkin keliatan rame, punya banyak teman, tapi untuk teman cerita tentang masalah pribadi, saya bener2 selektif memilih teman yang dekat dan bisa dipercaya.
Cuma masalahnya, entah kenapa, dari dulu merasa lebih cocok berteman dengan teman pria daripada teman wanita. 

Kalau dulu, sebelum menikah mungkin gak masalah, bisa bebas curhat dengan mereka tapi setelah menikah, mulai menarik diri. Kebanyakan cuma cerita sama suami aja karena menjaga perasaan dia juga. Kadang kangen juga dengan teman2 yang biasa dekat, secara saya gak punya banyak teman dekat perempuan dan agak susah kalau harus PDKT sama Ibu2, dulu nikah umur 21 tahun. 

Kadang, saya merindukan teman-teman yang bisa memberikan feedback yang diinginkan kalo saya cerita dengan mereka. Kalau sama suami, mungkin karena usia terpaut jauh, jadi pikirannya sudah dewasa, kadang ketika cerita, saya sebenernya cuma pingin dihibur atau pingin dia membenarkan apa yang saya bilang, tapi lebih seringnya jadi dinasehatin panjang lebar, hehe....
Yaa... walaupun apa yang dikatakannya benar tapi kadang2 saya cuma pingin dihibur atau pingin di iyakan aja. 

Bahkan sampai sekarang, orang-orang yang saya hubungi ketika saya butuh bantuan ternyata laki-laki semua, hehe....
Baru menyadari itu kemarin, ketika saya butuh masukan untuk bikin kuisioner tesis. 
Orang yang pertama kali saya hubungin tentu saja adalah suami.
Yang kedua adalah Bang Ramses
Yang ketiga : Naryo
Yang keempat : Mas Koco
Yang kelima : Derry

Abang teman dari jaman dulu pas bareng di KPP Metro. Klo Mas Koco, Derry dan Naryo ketemu nya pas bareng di KPP Semarang Tengah Dua.
Setelah menghubungi mereka satu2 via telp, saya baru nyadar klo yang saya hubungi ternyata laki2 semua, hehe....
Tapi saya benar2 mendapatkan masukan yang benar2 saya butuhkan untuk kuisioner saya dan alhamdulillah berkat bantuan mereka, kerangka pemikiran dan kuesioner nya uda disetujui oleh dosen pembimbing dan bisa segera piloting. 

Berteman itu membutuhkan chemistry, klo udah dapet chemistry nya bisa temenan sampe lamaaa, awet dan gak lekang dimakan waktu dan jarak....
Mungkin contohnya ya si Abang. Sudah akrab dari tahun 2000 ketika pertama kali ketemu di Metro dulu sampai sekarang masih contact dan selalu available klo dimintain bantuan. kadang saya juga curang, contact hanya kalau butuh bantuan aja, hehe....

Contohnya kayak tahun 2014 kemarin, minta tolong dia nganterin berkas pendaftaran bea siswa ke kantor pusat padahal tau klo dia gak bisa bawa kendaraan sendiri, hehe.. jadilah dia dari kantor nya ke kantor pusat naik taksi nganterin berkas pendaftaran saya. 

Atau kemarin ketika diminta gantiin ngajar anak D3 Pajak Undip sama Dosen pembimbing, saya rada panik juga karena gak punya bahan buat ngajar. Yang terlintas di kepala adalah dua orang yang bisa dimintai tolong, hehe.... langsung telpon Mas Koco dan Derry, minta cariin file ppt buat ngajar trus langsung meluncur ke kantor mereka buat ngambil file nya.

Alhamdulillah walaupun gak banyak, tapi punya teman2 dekat yang selalu siap membantu kapanpun dibutuhkan.

Kalau suami sih, gak usah dibilang ya, udah ribuan kali istrinya merepotkan dia.
Kadang lagi rapat atau lagi ada acara tiba2 ditelp sama istrinya buat sekedar curhat atau minta bantuan, hehe...
Orang yang pertama kali dihubungi tentu saja suami tercinta.
Sesuai dengan cita2 dulu, punya suami yang bisa berperan macam2, tergantung kebutuhan. :)
Bisa jadi Suami, bisa jadi teman bahkan bisa jadi dosen pembimbing juga.
Kayak sekarang, lagi pusing tesis, ya Suami juga diajak pusing. 
Kadang dia sebel kalo harus baca artikel, jurnal atau teorinya juga.
Mau nya dia aku aja yang jelasin ke dia. Lah, gimana mau jelasin, wong saya aja gak ngerti?
Maksudnya minta dia baca biar dia yang jelasin ke saya, itu jurnal atau teori maksudnya apa?
Hehe....

Terima kasih untuk Suami tercinta dan untuk teman2 yang selalu ada ketika saya membutuhkan.





Safiamita

The picture credit to : https://www.pinterest.com/samadhiyoga8/mother-teresa/

Pertama kali membaca quote ini dari picture nya seorang teman di Whatsapp. Berasa mengena sekali karena ketika itu kita baru aja dapet rapel kenaikan tunjangan. Saya memang gak berniat untuk menaikkan standar hidup dengan kenaikan tunjangan itu, hanya mungkin lebih melonggarkan ikat pinggang, setelah selama setahun terakhir ini  mengencangkan ikat pinggang karena penghasilan berkurang akibat sekolah lagi.

Yang paling mengena dari quote itu adalah : Raise Your Standard Of Giving.
Wow, langsung menancap di hati.
Sudah lama saya berhenti menonton berita di TV, menonton acara2 yang bikin sedih, kayak orang pinggiran, dll. 
Saya berusaha mematikan hati, karena ketika melihat hal-hal yang menyakitkan, hal-hal yang menyedihkan itu juga membuat hati saya menjadi sakit, dan yang paling saya benci adalah ketika saya juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka yang sedang susah itu.

Saya juga bukan orang yang bisa bersosialisasi dengan baik, kalaupun harus memberi, saya lebih suka memakai tangan orang lain? kenapa? karena saya gak punya keberanian untuk memberikannya langsung.

Dulu pernah, setiap pulang kantor saya selalu melewati jalan yang ada tunawisma tinggal di pinggir jalan itu. Setiap kali lewat situ, saya selalu terpikir untuk mampir, apalagi klo lagi bawa makanan pulang dari kantor...
Dalam imajinasi saya, saya berhenti sebentar trus ngasih makanan ke mereka. 
Mereka itu pemulung dan sepertinya sepasang suami istri, Bapak dan Ibu yang sudah tua. Tapi selama 6 tahun saya melewati jalan itu, saya gak pernah berani untuk berhenti.
Sampai di suatu saat di bulan ramadhan, suami mau bagi2 zakatnya yang masih harus dibayar. Trus saya usul buat ngasih bapak dan ibu itu. Tapi ketika disana, malah suami yang turun  dari mobil dan memberikannya, saya nunggu di mobil. Alhasil diomelin suami karena saya yg punya ide tapi dia yang mengeksekusi. hehe.. saya cuma diam dan senyum, tapi dalam hati rasanya bahagia sekali, karena paling tidak satu kali, kami bisa membatu mereka walau tidak seberapa. 
Sekali lagi, itu karena saya gak punya keberanian....
Jadi apa yang terlintas dipikiran hanya sekedar angan2 tanpa bisa diwujudkan jadi kenyataan.

Tapi untuk sekarang, saya sudah menemukan jalan untuk orang-orang yang gak punya keberanian seperti saya. Ada banyak lembaga sosial yang insyaAllah amanah, yang bisa jadi perpanjangan tangan untuk kita dalam memberi. Seperti sekarang, ada pengungsi rohingya, ada gempa di Nepal, lembaga DPU DT atau PKPU sudah menawarkan event untuk itu, kita tinggal transfer berapapun yang kita mampu ke rekening yang mereka sediakan. Dan bisa membantu kita untuk menjalankan Raise standard of giving....
karena kita gak cuma butuh tabungan untuk dunia, tapi yang paling penting juga tabungan untuk akhirat.

Smoga bisa meningkatkan standard of giving, aamiin....



Safiamita
Banyak hal di dunia ini yang masih tidak kita ketahui... ada hal2 yang membuat kita jadi peduli dan ingin tau ketika terjadi pada pada kita atau pada orang2 terdekat atau orang2 di sekitar kita. 
Sy dulu gak tau apa yang namanya penyakit vitiligo.... Setelah ada seorang teman dekat yang mengalami itu.. baru mulai mencari2 di internet, apa itu vitiligo. Ternyata vitiligo adalah sejenis penyakit kulit yang sampai sekarang belum ada obatnya. 
Sekarang ada anak nya seorang teman yang kena thalasemia. Dulu sudah pernah baca tentang penyakit ini... setauku itu penyakit kelainan darah yang belum ada obatnya juga... tapi melihat temanku itu.. sepertinya dia menjalani nya dengan tegar. Alternatif agar si anak bisa bertahan adalah dengan transfusi darah tiap bulan. Aku cuma bisa terharu, ber empati dan berdoa untuk mereka... Smoga dikuatkan, diberi kemudahan, pertolongan dalam menjalaninya, aamiin...
Allah memang gak ngasih cobaan yang melebihi batasan kita tapi menurutku hanya orang2 terpilih lah yang diberi cobaan luar biasa, karena mungkin klo orang seperti aku diberi cobaan2 begitu, mungkin gak akan mampu menjalaninya...


Safiamita
Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang terjadi tapi gak sempat terekam di blok ini... 
termasuk sebuah usaha mencapai cita... 
rasanya sudah berusaha optimal, sudah berdoa optimal juga... 
Ternyata masih belum cukup untuk mewujudkannya menjadi nyata
berdoa dan berusaha yang telah dimulai dari tahun lalu. 
Lewat perdebatan dan diskusi panjang dengan sang suami juga.. 
sampai dengan diizinkan untuk mencoba. 
Tapi ternyata semuanya berakhir anti klimaks... 
walau sudah diantisipasi sejak awal, semua ini mungkin terjadi..
 tapi rasanya tetap nelangsa juga, kecewa dan tetap bertanya kenapa? 
Ya sudahlah... mungkin memang bukan rejeki... 
sesuatu yang sudah didepan mata... 
Kenapa jadinya seperti ini? Hiksssss...... 
ternyata saya tak pernah bisa cukup legowo untuk menghadapi sebuah kegagalan apalagi klo sudah gak punya kesempatan untuk mengulang.
Safiamita
Dimanapun kita berada, akan selalu ada alasan untuk mengeluh
Tapi pada berbagai kejadian, ada banyak kesempatan juga untuk kita bersyukur.


Cobaan pada masing2 orang memang berbeda2. Ada orang yang diberi cobaan tentang masalah rejeki, ada yang masalah jodoh, ada yang masalah keluarga, dll. Namanya hidup pasti ada masalah. Kadang kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain, dan dari situlah muncul rasa iri bahwa sepertinya hidup orang lain itu lebih baik dari hidup kita.
Aku juga sering begitu...
Sederhana saja..contohnya : lihat teman yang punya ART yang baik, bukan main irinya karena saat ini lagi gak punya ART dirumah, semua jadi harus dikerjakan sendiri.. sudah capek di kantor, pulang masih juga harus mengerjakan pekerjaan rumah.
Tapi ya itu, namanya hidup pasti ada cobaannya. Mau dikeluhkan juga gak menyelesaikan masalah.
Kemarin ketika mengantar suami ke bandara, pulangnya melihat para buruh tani baru selesai memanen padi. Mereka sedang memasukkan batang2 padi yang selesai di potong ke karung2 untuk dibawa ke tempat penggilingan padi. Aku pikir, ternyata panjang ya proses untuk menghasilkan nasi agar tersedia di meja untuk dimakan. Memandang wajah buruh2 itu, terlihat mereka lelah, tapi rasanya gak ada yg mengeluh karena capek bekerja. Lalu membandingkan dengan diri sendiri...
Mereka yang bekerja lebih keras saja tidak mengeluh, kenapa aku yang diberi kehidupan yang harusnya lebih mudah dari mereka mudah mengeluh tentang hidup? Jadi malu rasanya....
Mungkin dengan begitu jadi diingatkan lagi untuk lebih bersyukur dan lebih peduli lagi pada orang lain. 
Hidup tak selalu melihat keatas, harusnya lebih sering melihat kebawah sehingga menyadari bahwa Allah telah memberi yang terbaik untuk kita. Ini adalah peranan yang sudah sesuai dengan kapasitas kemampuan kita di dunia yang harus dijalankan sebaik-baiknya.
Safiamita
aku memang masih harus banyak belajar...
belajar mengenalimu lebih baik
belajar memahami kenapa engkau begini
kenapa engkau seperti itu
belajar mengalahkan ego ku demi dirimu
belajar tentang apa yang sebenarnya ada dibenakmu

sehingga aku bisa mengerti dan menerima
ketika ada perbedaan diantara kita
sehingga aku bisa mengikuti apa
sebenarnya mau mu

kadang aku habis akal...
bingung bagaimana menghadapimu
sampai kapan harus terus begini?
aku memang tak sempurna...
tapi aku menginginkan mu jadi sempurna
kau harus lebih baik dari aku
aku ingin mengantarkanmu ke puncak yang tertinggi
yang mampu kau capai
Aku akan terus belajar dan belajar
agar kau tak tersakiti dan aku tak terluka lagi.




Safiamita
Kadang dalam bekerja, ada sesuatu yang gak ingin kita kerjakan, tapi harus dikerjakan karena itu adalah pekerjaan kita, walau kadang hati nurani protes gak ingin mengerjakannya. Tapi apa mau dikata, mengutip kata2 seorang teman, "kita ini hanyalah bagian kecil dari sistem yang ada". Ya.. benar.. Kita hanya salah satu mata rantai dari sistem ini.. bukan pula pembuat keputusan, hanya bagian dari yang melaksanakan tugas. Klo itu adalah memang menjadi tugas kita dan harus dilaksanakan, apa bisa menolak? 
Secara sistem mungkin pekerjaan itu sudah benar, sudah pada jalan yang benar tapi kadang hati menolak untuk melakukannya karena alasan kemanusiaan, dsb. 
Smoga apa yang dilakukan ini sudah benar dan tidak terkategori mendzolimi orang lain, aamiin...
Safiamita
Ada banyak hal di dunia ini yang kadang tidak ku mengerti... 
kadang apa yang kupandang kurang baik, tapi di pertahankan oleh orang lain...
ada yang kupikir baik, tapi ditinggalkan oleh orang lain...

Termasuk juga dalam hal jodoh....
Mungkin karena aku sudah mengalami lebih dulu, jadi bisa mengatakan ini, walau juga gak bisa jadi patokan sebuah kebenaran.
Kami dibesarkan di lingkungan yang sangat menjunjung tinggi kepatuhan pada orang tua, termasuk juga dengan masalah yang diatas tadi. Ketika dulu datang seseorang yang kupandang agama nya baik, dan aku sudah menyiratkan bahwa aku setuju untuk dilamar, tapi ketika kusampaikan kepada Ibu, ternyata Ibu gak setuju.. alasan satu2 nya adalah karena ketika itu aku masih muda. Mungkin ketika itu aku kecewa, tapi apapun kata beliau akan aku turuti karena baktiku pada orang tua. Dan seiring perjalanan waktu ternyata Allah menggantikan seseorang itu dengan jodoh yang terbaik untukku, yaitu suami tercinta sekarang. Saat ini aku menyadari bahwa dia lah pilihan terbaik dari Allah yang bisa kudapatkan dari semua pria yang dulu datang untuk melamar. Dari semua sisi, dia adalah imam terbaik yangdiberika Allah untukku, untuk menjadi suami yangmenemani dunia dan akhiratku serta menjadi ayah terbaik untuk anak2 ku dan sekarang aku bersyukur dulu aku menuruti kata ibuku. 

Dan kejadian itu terjadi lagi sekarang, ada seorang ibu, rekan kerja di kantor yang bercerita tentang anak gadisnya yang menjalin hubungan jarak jauh dengan seseorang di luar pulau. Si anak gadis sepertinya benar2 sudah jatuh cinta. Sang Pria juga sudah pernah datang ke rumah mereka untuk berkenalan dengan keluarga si Ibu tadi sekaligus berniat melamar. Tapi si Ibu secara halus menolak karena melihat si Pria sepertinya masih jauh dari kriteria yang dia harapkan untuk anak gadisnya... dan aku sendiri selalu percaya, bahwa seorang ibu pasti punya semacam indera ke enam untuk melihat pribadi seseorang apalagi yang berkaitan dengan jodoh anaknya. Si anak pun mendengar itu dan jadi ngambek dengan menelantarkan kuliahnya. 
Ketika si Ibu bercerita dengan linangan air mata, aku jadi terenyuh... bagaimana kalau nanti kisah seperti ini juga terjadi padaku dan anak2 gadisku?
aku mengerti kekhawatiran si Ibu tentang pria seberang lautan itu... dengan pekerjaan yang belum tetap, kondisi keluarga si Pria yang tidak diketahui oleh si Ibu secara detil, bagaimana beliau bisa menyerahkan anak gadisnya?
Aku juga seorang ibu sekarang.. jadi aku bisa merasakan apa yang dia rasakan...
mungkin kalau aku masih seusia anaknya, yang ada dipikiranku adalah, kenapa harus dilarang? toh cinta sama cinta, harusnya di restui aja. Pasti menurut si anak gadis, si Pria adalah orang yang baik.
Ketika si Ibu berkata,,, dia hanya mengkhawatirkan hidup anaknya nanti bagaimana.. apalagi kalau nanti beliau sudah di panggil Ilahi.. Dia hanya ingin anak nya bahagia, tidak menderita setelah menikah. Aku pun ikut berurai air mata mendengarnya....
Si Ibu berharap si anak bisa mandiri dulu dengan hidupnya, tidak tergantung sepenuhnya pada suami, jadi suatu ketika bila terjadi sesuatu pada rumah tangga anaknya, dia masih bisa tetap hidup dengan baik.
Aku pikir tidak ada yang salah dengan kekawatiran si Ibu....
Apalagi kata si Ibu, anak perempuannya adalah anak yang tertutup, dia khawatir kalau setelah menikah lalu dibawa keseberang pulau, kemudian terjadi apa-apa, si anak tidak akan pernah bercerita pada nya dan hanya dipendam sendiri. 
Aku hanya berpikir, sebesar itu lah kasih sayang seorang Ibu yang sudah melahirkan, membesarkan dan merawat si anak seumur hidup anak tersebut, tapi ketika si anak jatuh cinta dengan seorang pria yang baru saja ditemui nya 1 atau 2 tahun terakhir, sang ibunda tiba2 saja disingkirkan dari hatinya.

Ya... aku hanya bisa berkata agar si Ibu bersabar dan banyak berdoa kepada Allah... semoga segera diberikan jalan yang terbaik.

Tapi pesan ku kepada semua anak yang membaca tulisan ini, jangan lupakan kasih sayang orang tua yang telah merawat kita dari dalam rahim sampai besar hanya karena cinta kepada seseorang yang baru kita kenal lalu kita sudah merasa kita tidak bisa hidup tanpa dia. kalau memang begitu, selama hidup kita sebelum kita mengenal dia, kenapa kita bisa hidup?  kita bisa hidup karena kasih sayang orang tua, karena ibu yang bertaruh nyawa melahirkan kita, menahan rasa sakitnya agar kita bisa melihat dunia, memberikan air susunya selama dua tahun supaya kita tak kelaparan. menyuapi dengan tangan mereka, menjaga kita, rela tidak tidur ketika kita sakit, bekerja keras mencari uang agar segala kebutuhan kita terpenuhi. Tak akan pernah cukup emas dan uang didunia ini untuk membalas semua jasa mereka. Lalu, apa salahnya jika kita sedikit mendengarkan mereka?
Mereka hanya menginginkan kebaikan untuk kita, anak-anak mereka. Ridho mereka, ridho Allah juga...
smoga kita bisa selalu membahagiakan orang tua, bersikap patuh dan taat kepada mereka selama itu dalam kebaikan dan syar'i. Smoga Allah membalas segala kebaikan mereka untuk kita anak-anaknya dengan ampunan dan surga-Nya, aamiiin...
Safiamita
Sebel banget rasanya klo ketemu dengan orang yang mau menang sendiri, selalu saja menyalahkan orang lain. Pasti selalu punya cara untuk menimpakan kesalahan ke orang lain.
Coba deh sekali-sekali belajar  introspeksi diri. Mulailah sebuah pemikiran bahwa jangan-jangan itu salahku ya..., bukan orang lain. 
Kenapa harus menyalahkan orang diluar diri kita terus atas apa yang terjadi pada kita atau di sekitar kita? Kenapa yakin sekali kalau terjadi sebuah kesalahan,  kita gak punya andil disitu ?
Andai saja mau berkaca diri sedikit saja, pasti banyak kekurangan yang terlihat.. kalau sudah bisa melihat kekurangan diri sendiri, masa gak mau diperbaiki? 
Sayangnya.. karena selalu merasa benar, jadi selalu ada argumen untuk menimpakan salah ke orang lain agar diri sendiri terhindar dari masalah. Tapi, apa dengan begitu hidup bisa jadi tenang? 
Bukankah kita menuai apa yang kita tanam? 
Tuhan gak mungkin keliru menimpakan hukuman pada orang yg gak salah... 
hanya karena kita merasa benar lalu apakah hukuman itu lantas pindah ke orang lain? 
Menurutku, orang yang mau menang sendiri, tukang mengadu, suka menimpakan kesalahan pada orang lain itu adalah orang yang terus hidup dimasa kanak2, tidak pernah mau belajar untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas semua yang telah dilakukan. 
Sekalipun menjadi tua adalah keniscayaan tapi menjadi pribadi yang dewasa adalah benar-benar sebuah pilihan. Demikian lah kira-kira apa yang sedang terlintas di pikiran.
Didedikasikan khusus untuk pembelajaran diri sendiri.
Safiamita
Mari jalani hidup masing-masing
Tak usah terlalu risau akan hidup orang lain
Apalagi ikut campur atau mengurusi hidup orang lain
Segala sesuatu yang di iri kan dari hidup orang lain tak akan berpindah pada kita hanya karena kita iri
Apa yang kita benci pada orang lain tak kan mengubah perilaku mereka
Hanya menambah kekotoran hati kita saja.
So, sibuklah melihat ke dalam diri sendiri
Sibuklah bersih bersih hati sendiri
Sibuklah giat berusaha untuk mengubah hidup sendiri jadi lebih baik.
Tak usah terlalu perhatian pada hidup orang lain...
Tetap lah berempati tanpa mengotori hati
Bersyukurlah dengan apa yang dimiliki agar tidak menginginkan apa yang dipunyai oleh orang lain
Tuhan telah memberi yang terbaik untuk kita
Kalau masih merasa kurang, mintalah hanya kepada Tuhan dan berusahalah..
Nasib kita itu ada ditangan Tuhan dan tak ada takdir yang bisa berubah kalau kita sendiri tak berusaha untuk mengubahnya dengan usaha dan doa.
Safiamita
Semakin sering mematut di cermin,
semakin sadar bahwa diri ini sudah bertambah tua
Waktu berlalu begitu cepat
Umur bertambah
Kerutan mulai terlihat
Lalu sudah berbuat apa di dunia ini?
Bekal apa yang akan dibawa nanti?
Sedangkan usia tak pernah pasti
Bila nanti maut akan menjemput
Lebih sering berperilaku bahwa seakan akan tinggal di dunia ini untuk selamanya....
Mengaburkan dunia yang abadi yang menanti

Smoga tak melenceng terlalu jauh dari jalan-Nya
Smoga diampuni segala khilaf dan salah
Agar pada saatnya kembali nanti,
bisa berada dalam ridho-Nya,
aamiin

Safiamita
Seingatku belum pernah merayakan yang namanya tahun baru. Tahun ini pun tetap sama...
Gak begitu peduli dengan moment tahun baru nya.. hanya peduli dengan pergantian waktunya saja...
Karena tahun ini mengharapkan ada nya perubahan nasib, perubahan rejeki dan perubahan sikap menuju yang lebih baik lagi....
Karena baru ditahun ini sepertinya kesempatan akan terbuka untuk bisa mencapai perubahan-perubahan itu.
Dari pada itu lah, mengharapkan segera datangnya tahun 2013. Dan sekarang sudah memasuki hari kedua di tahun 2013. Smoga banyak pintu2 yang terbuka dan bisa aku coba untuk masuki....
Smoga smua harapan yang ku simpan dan ku pupuk dari tahun-tahun yg lalu, bisa segera Engkau wujudkan, Ya Allah... aamiin...
Safiamita
Saat akan mengeluh betapa repotnya di pagi hari, mulai dari membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan sampai dengan mengantarkan mereka ke gerbang pintu sekolah...
Lalu aku tersadar, sebentar lagi semua ini juga akan berlalu...
Seiring dengan waktu, mereka akan bertambah besar, dewasa dan mandiri. Mungkin ketika mereka beranjak remaja, peranku sebagai ibu akan jauh berkurang, tapi mungkin mereka lebih butuh aku sebagai teman...
Maka aku bersyukur setiap pagi masih bisa melihat wajah polos mereka, menyiapkan sarapan,  masih bisa mengantar mereka menuntut ilmu, dan masih bisa mencium kening mereka sebelum mereka masuk gerbang sekolah.
Aku juga bersyukur bisa menikmati hari-hari bersama mereka, melihat mereka tumbuh besar, melihat mereka bertambah kemampuan.

Saat akan mengeluh, susahnya menyuruh mereka belajar.. Mulai dari belajar untuk sekolah sampai dengan belajar untuk tertib beribadah..
Aku tersadar, semua ini adalah bekal untuk hidup mereka nanti, perlu proses yang panjang dan memerlukan ekstra kesabaran agar mereka bisa jadi tertib dan terbiasa dengan semua hal yang baik sehingga menjadikannya sebuah kebiasaan.
Lalu aku bersyukur, masih diberi kesempatan untuk mengajari dan merawat mereka...
Agar suatu saat dapat kulepas untuk dapat 'terbang' sendiri karena mereka sudah punya sayap-sayap yang kuat.

Lalu aku tersadar bahwa bukan saatnya lagi untuk mengeluh, karena semua ini adalah anugerah. Kebersamaan bersama mereka adalah karunia, merawat mereka adalah berkah, mendidik mereka adalah ladang pahala, karena mereka adalah amanah. Amanah yang dititipkan Allah pada kami untuk dapat dipertanggungjawabkan nanti.
Safiamita
Kalau ditanya apa yang diinginkan saat ini apa? Jawabnya adalah : pingin dirumah aja..
Pingin jadi ibu rumah tangga secara full aja....
Dulu merasa cukup bangga dengan profesi sebagai ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga (IRT)
tapi klo sekarang rasanya perasaan itu sudah tidak berlaku lagi. 
Yang ada hanya perasaan iri lihat Ibu2 lain yang bisa seharian full di rumah, ngurusin anak2 mereka. 
Kalau kata suami, sebenarnya aku juga masih bisa melakukan itu walau tetap bekerja. 
Itulah yang coba dijalanin sekarang.... 
Tapi sangat merindukan bisa lebih punya banyak waktu dirumah...
Melihat senyum mereka saat dijemput sama bundanya dari sekolah.
Bisa menggandeng Bundanya klo ada acara sekolah pada jam kerja..
Dan lain sebagainya lah..
Banyak juga hal-hal lain yang aku lewatkan karena di siang hari lebih banyak waktu dikantor daripada dirumah...
Menantikan hal itu terjadi, paling tidak disaat ini, saat anak2 masih kecil dan masih membutuhkan ku...
Sebentar lagi, ketika mereka beranjak remaja, mungkin mereka sudah lebih sibuk dengan diri mereka sendiri dengan aktivitasnya masing-masing....
hmhmh... maafin Bunda ya, Nak...
belum bisa melakukan hal itu sekarang...
Safiamita
Kemarin malam sempat dikejutkan sama telp sang suami. Karena udah sempat terlelap, jadi pas terima telpon, nyawa belum terkumpul semua.. Suami ngabarin klo dia lagi di rumah sakit, stroke. Kita yang denger langsung kaget.  Lha, ini yang stroke siapa? apa suamiku sendiri? tapi kok masih bisa telpon istrinya? Ternyata yang kena stroke seorang rekan suami dikantor, kena serangan di kantor. Alhamdulillah, cepat dapat pertolongan dan langsung dibawa ke Rumah sakit. Smoga lekas sembuh dan tidak terjadi apa2, amiin....
Tapi jadinya setelah itu jadi gak bisa tidur lagi karena yang langsung terbayang hanyalah gimana klo suamiku yang mengalami ya? Istri jauh, keluarga jauh.. disana hanya tinggal di Kos, sendirian... 
Hanya bisa berdoa untuk yang tercinta...
Ya Allah.. lindungilah suamiku... jangan biarkan sesuatu terjadi padanya... Berilah kami sekeluarga selalu nikmat sehat-Mu dan smoga kami bisa segera berkumpul bersama lagi, amiin.....  
Safiamita
Nungguin anak-anak belajar berenang jadi tersadar akan satu hal.. Bahwa untuk mencapai sesuatu yang diinginkan bukanlah hal yang mudah, semua butuh proses termasuk untuk jadi mahir dalam suatu keahlian. Cobaan terberat adalah ketika harus melewati proses tersebut mulai dan nol sampai dengan berhasil. Kalau sudah merasakan hasilnya, proses yang pahit itu akan terbayar sudah...

Termasuk dalam belajar berenang seperti sekarang, baru 2 kali pertemuan, emaknya udah mulai bertanya2.. Kapaaan ya bisanya anak2 itu? hehe.....Sabar ya Bunda....
Nanti akan sangat menyenangkan melihat mereka bisa berenang. Si kakak aja udah bisa berenang kemana2 walau masih ditemani dengan pelampung. Lumayan lah. Mau nya emaknya sih, begitu nyemplung ke air, anak2 nya udah bisa lancar berenang seperti ikan, hehe...

Tapi Alhamdulillahnya, mereka menjalani proses ini dengan hati senang dan rasa suka. Jadi gak akan berasa berat buat mereka. Mulai dari latihan belajar menyelamkan kepala kedalam air biar gak takut sama air sampe dengan belajar menggerakkan kaki.
Semangat ya, Nak. Kalian pasti bisa. :)

Safiamita
Sedikit terhenyak bercampur rasa iri yang sangat, ketika kemarin tau dari seorang teman bahwa anak nya yang baru berumur 5.5 th sudah lancar baca Al Quran dan hapalan Juz Amma nya tinggal 4 surat lagi...
SubhanaAllah.... Anak nya hebat sekali.. Orang tuanya juga pasti hebat.. Terutama sang Ibunda yang pastinya sangat telaten sampai sang Anak mencapai kemampuannya itu...

Selama ini anak2 dirumah juga sudah dimasukkan ke Taman Pendidikan Al Quran di masjid deket rumah. Si Kakak yang umur 7 tahun, masih di jilid 6 Qiroati, Nabila, baru masuk jilid 2 dan si bungsu, Alya baru mau naik dari pra jilid ke jilid 1. Biasanya sehabis sholat maghrib hanya nge cek dan ngajarin anak2 baca Qiroati dirumah, tapi tadi malam dicoba juga mengecek hapalannya anak2...

Alya dan Bila hapalannya hampir sama : An nas, Al Falaq, Al Ikhlas, Al Lahab, An Nasr, Al kafirun, Al 'Asr dan Al Fatihah.
Klo Kakak Mita, sebenarnya sudah sampai Al Bayyinah tapi klo surat yang udah lama gak dibaca dia lupa lagi. Yah, sepertinya Emaknya memang harus lebih telaten ya....
Walau Emaknya juga blm hapal juz Amma, tapi apa salahnya klo mengharap anak2 nya bisa lebih baik dari orang tuanya? sambil belajar bersama juga tentunya. Gak boleh putus asa dong yaaa.
Semangattt !!!!!!!!
Klo berlomba-lomba dalam kebaikan, tentu saja boleh dong. ^_^
Safiamita
MasyaAllah... cuma masalah anak2 kecil yang saling ejek, yang saling kejar2 an...
Orang tuanya jadi ikut2an...
Apa harus ikut arus juga? meladeni orang2 yang mengeluhkan anak2 ku?
Padahal setelah mereka(anak2) berantem, 2 menit kemudian mereka udah berteman lagi seperti gak terjadi apa2...
Tinggal orang tuanya yang saling dendam...

Hmh... klo mau mengikuti aliran darah ini... Rasanya pingin juga melabrak balik...
Mereka orang tua, aku juga orang tua.
Bertaruh nyawa aku menghadirkan anak-anakku ke dunia ini,
Susah payah aku membesarkan mereka, mendidik mereka, hanya untuk dimarahi oleh orang lain apalagi saat aku gak ada dirumah.
Anak2 itu gak salah, yang salah aku..
klo mau marah, ya marah aja ke aku.
Anggap aja aku adalah Ibu yang gak bisa didik anak2nya...
Jangan mereka...
jangan dikira hati ini gak sakit...

Ya Allah, beri aku kesabaran, smoga smuanya berakhir baik. smoga aku tidak mengikuti emosi semata, smoga aku masih bisa berpikir rasional...
Ampunilah aku yang belum mampu sepenuhnya menjaga dan mendidik amanah-Mu...
Lindungilah selalu anak2ku Ya Allah...
Jadikanlah mereka selalu dalam perlindungan dan pertolongan-Mu, dan jadikanlah mereka anak2 sholihat yang menjadi penyejuk hati kami di dunia dan di akhirat-Mu nanti, amiin....
Related Posts with Thumbnails

Galeri