Safiamita

Hehe.. itu kan kata pepatah ya?
Tapi terbukti ada benarnya juga. Si Kakak ama Bila sekarang udah mulai suka panjat pagar. Apalagi kakak, udah mulai belajar panjat pohon bareng temen2nya.
Persis kayak emaknya dulu waktu kecil...
Makanya pas si nenek di kasih tau lewat telpon klo cucu2nya udah mulai panjat2, jawabannya enteng aja, "sama kayak emaknya dulu.", hehe....
Masih kebayang dulu sering dimarahin klo main panjat2an, sekarang aku yang marahin sikecil2 karena mereka melakukan hal yang sama. Hemh... Jadi bisa merasakan kecemasan orang tua dulu ketika kita melakukan hal yang mereka anggap agak membahayakan, takut kita jatuh , dsb..
Apalagi dulu waktu kecil di Palembang tinggalnya di dekat sungai musi. Belajar berenangnya di sungai musi. Bunda tercinta marah banget klo aku ketauan berenang di sungai. Dulu sih, bingung kenapa temen2 yang lain gak ada yang kena marah klo main di sungai sedang aku sebaliknya... sekarang baru mengerti bahwa itu adalah tanda kasih sayangnya untukku, takut klo terjadi apa2 padaku, secara klo tenggelam di sungai yaa tinggal wassalam deh...
Alhamdulillah, sekarang tinggal disemarang jauh dari sungai...
Coba klo ada sungai dan si kecil2 melakukan hal yang sama kayak aku dulu?
Wah, gak kebayang deh :)
Safiamita
Pas ngobrol sama suami kemarin, dia bilang ada satu cerita yang dia baca dan menarik baginya. Kira-kira ceritanya gini....

Alkisah, ada seorang gadis remaja yang bertengkar dengan ibunya. Dia marah pada ibunya lalu memutuskan untuk kabur dari rumah. Dalam perjalanannya kabur dari rumah, akhirnya dia kehabisan bekal, kelaparan, kehausan, terlunta-lunta di jalan, dan tidak ada yang bersedia menolong. Sampai datanglah seorang ibu tua yang menolongnya, lalu mengajak si gadis ke rumahnya. Memberi si gadis itu semangkuk mie instan. Si Gadis merasa sangat terharu atas pertolongan si Ibu tua, dia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Lalu si Ibu tua menjawabnya dengan bijak, "Nak, aku baru sekali ini melayanimu, hanya memberimu semangkuk mie, tapi apakah kau sadari bahwa ibumu telah melayanimu setiap hari, melimpahkan kasing sayangnya padamu setiap saat. Pernahkah kau menghargainya, berterima kasih kepadanya?"

Yaa... itulah yang sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari....
Orang-orang terdekat yang selalu berkorban, berbuat baik pada kita, kita anggap sebagai suatu hal yang biasa saja. Mungkin berpikirnya, itu sudah kewajiban mereka terhadap kita. Tapi ketika ada seseorang yang tidak kita kenal lalu berbuat baik pada kita saat kita butuh, kita akan sangat menghargainya.

Mungkin cerita ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bisa lebih menghargai orang-orang disekitar kita yang telah memberikan pelayanan terbaik mereka untuk kita lalu belajar berterima kasih pada mereka. Bisa pada orang tua, pada teman atau bahkan pada khadimat dirumah yang membantu tugas dirumah. Belajarlah untuk menghargai sekecil apapun peran orang lain untuk hidup kita.

Aku juga sedang belajar ^_^
Semoga berhasil ya, semangat !!
Safiamita
Kenapa ya, untuk sebagian orang sulit sekali mengucapkan maaf bila bersalah?
Apa karena ego nya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukannya atau karena merasa bahwa dia benar?
Entahlah....
Menurutku, aku juga termasuk orang yang ego nya tinggi (lho, kok ngaku sendiri ? hehe..)
Tapi klo merasa telah berbuat salah pada suami, pada anak, termasuk pada teman atau siapa aja. Gak akan sungkan untuk meminta maaf. Inginku, orang lain pun berlaku seperti itu. Klo salah, ya minta maaf. Mungkin sebenarnya perbuatannya sudah dimaafkan tapi kadang butuh pengakuan bahwa dia menyadari kesalahannya. hehe.. kok maksa ya?
Yah, kan orang masing-masing punya pendapat yang beda2, ini hanya sekedar pendapatku, menceritakan apa yang terlintas. Klo memang kita salah, ya minta maaf aja...
Mumpung masih diberi waktu untuk mengucap maaf, klo orangnya tiba2 udah keburu gak ada, ntar nyesel sendiri karena belum sempat minta maaf atas semua kesalahan, atau gimana kalau kita yang keburu gak ada didunia lagi ? :)
Safiamita
Pas ngobrol sama suami kemarin, dia bilang ada satu cerita yang dia baca dan menarik baginya. Kira-kira ceritanya gini....
Alkisah, ada seorang gadis remaja yang bertengkar dengan ibunya. Dia marah pada ibunya lalu memutuskan untuk kabur dari rumah. Dalam perjalanannya kabur dari rumah, akhirnya dia kehabisan bekal, kelaparan, kehausan, terlunta-lunta di jalan, dan tidak ada yang bersedia menolong. Sampai datanglah seorang ibu tua yang menolongnya, lalu mengajak si gadis ke rumahnya. Memberi si gadis itu semangkuk mie instan. Si Gadis merasa sangat terharu atas pertolongan si Ibu tua, dia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Lalu si Ibu tua menjawabnya dengan bijak, "Nak, aku baru sekali ini melayanimu, hanya memberimu semangkuk mie, tapi apakah kau sadari bahwa ibumu telah melayanimu setiap hari, melimpahkan kasing sayangnya padamu setiap saat. Pernahkah kau menghargainya, berterima kasih kepadanya?"
Yaa... itulah yang sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari....
Orang-orang terdekat yang selalu berkorban, berbuat baik pada kita, kita anggap sebagai suatu hal yang biasa saja. Mungkin berpikirnya, itu sudah kewajiban mereka terhadap kita. Tapi ketika ada seseorang yang tidak kita kenal lalu berbuat baik pada kita saat kita butuh, kita akan sangat menghargainya.
Mungkin cerita ini bisa jadi cermin untuk berkaca diri agar bisa lebih menghargai orang-orang disekitar kita yang telah memberikan pelayanan terbaik mereka untuk kita lalu belajar berterima kasih pada mereka. Bisa pada orang tua, pada teman atau bahkan pada khadimat dirumah yang membantu tugas dirumah. Belajarlah untuk menghargai sekecil apapun peran orang lain untuk hidup kita.
Aku juga sedang belajar ^_^
Semoga berhasil ya, semangat !!
Safiamita
Aku memang tak sempurna, aku pun pasti banyak salah
Aku tak pintar berkata-kata, aku pun tak pandai mengungkap rasa
Tapi aku hidup di dunia yang penuh asa,
Akan selalu ada kesempatan kedua
Biarlah aku belajar merajut hidup penuh cinta
Lalu kucoba mencipta nelangsa yang akan merengkuh erat jiwa
Biarlah kucoba tetap tegar melangkah,
Menapaki kehidupan untuk satu arah yang nyata
Yang akan membawaku kembali seutuhnya
Hanya kepada-Nya
Label: 0 komentar | | edit post
Safiamita
Berenang ama Adek Bila ditengah guyuran hujan

Horee.... akhirnya Ayah dapet ikan juga, alhamdulillah :)

Kakak lagi jalan-jalan diatas jaring

Nemenin si kecil2 jalan di jembatan gantung

Si cimut ama Bila lagi maen di kolam pasir
Alhamdulillah, hari sabtu yang lalu jadi juga ngajak anak2 main ke grembel asri. Klo pas pertama kemarin kita lewat Jl. Abdurrahman Saleh, kali ini kita nyoba lewat sampangan, katanya lebih dekat. Ternyata... jaraknya gak jauh beda tapi malah jadi gak nyaman karena jalannya kecil, gak selebar klo lewat Jl. Abdurrahman Saleh... Jadi saran kita, klo mau kesana mending lewat Jl. Abdurrahman Saleh aja.
Sesampainya disana, yang pertama kali diserbu ama anak2 ya, kolam pasir. Adek Alya sampe tidur2an disitu, hehe....
Abis itu nyobain jalan di jembatan gantung. Si kakak ama Adek Bila ditawarin naik flying fox ama naik kuda pada gak mau, takut katanya.
Setelah makan siang, kita beralih ke kolam renang, ternyata gak perlu bayar lagi. cukup dengan tiket pertama ketika masuk taman dino aja.
Sayangnya, baru bentar berenang, hujan turun. Tapi GPP, lanjut aja main airnya. :)
Abis berenang, acara baru lanjut ke mancing ikan. Tumben lho, ayah bisa dapet ikan, hehe....
Rencananya ikan hasil pancingan ayah mau dibawa pulang tapi berhubung cuma dapet 5 ekor dan kecil2, akhirnya dilepas lagi aja deh.
Safiamita
Si Bapak bawa ular juga
Si Momon lagi dandan

Ayah salaman ama si Momon
Ini kali kedua si Ayah 'nanggap' topeng monyet keliling yang lewat depan rumah, sekedar menyenangkan hati anak-anak aja. Aku pikir mahal, ternyata sekali pertunjukan, bapaknya hanya minta imbalan jasa sebesar Rp. 7.000,- aja. Murah ya?
Ah, aku lupa nanya siapa nama monyetnya yang jadi bintang pertunjukan....
Kita sebut aja si Momon ya?
Seperti biasa, pertunjukan si Momon standarnya kan pergi kepasar ya ? hehe...
Tapi ada juga yang baru, momonnya pake dandan dulu trus sebelum pertunjukan, salaman dulu ama yang nanggap. Ada juga si Momon jalan di catwalk pake 'pose' trus berikutnya si momon jadi penari topeng. Terakhir si Momonnya sholat.
Eh, ternyata si Bapak juga bawa ular selain monyet.
Nah, klo ini serem ah, gak ikut-ikut deh...
Temen-temennya kakak mita malah berani pegang2 ularnya.
Setelah itu, pertunjukan selesai. Si momon kita kasih hadiah pisang. Si momon pinter lho, kulit pisangnya dibuang, gak ikut dimakan ama dia. yang dimakan pisangnya aja :)

Safiamita

Semarang Tengah Dua tampil

Sang Pasukan Biru :)


17 KPP jadi satu



Temen-temen KPP Madya lagi tampil sebagai wayang orang


Hari sabtu, tanggal 30 Januari 2010 kanwil DJP Jateng I ngadain gathering di Banaran Cafe, Bawen. Rame banget, 17 KPP di kumpulin jadi satu, mulai dari KPP se Semarang, Tegal, Jepara, salatiga, blora sampe pekalongan gabung disana. Yang paling seru adalah performance dari tiap2 KPP, ternyata orang pajak bisa juga becanda, bikin parodi, sampe nyanyi rame2. :)



Sebenarnya yang terpenting dari semua adalah kebersamaannya...

Jarang-jarang temen2 dari semua KPP bisa dikumpulin jadi satu. kemarin juga seperti acara reunian, saling sapa saling tanya kabar antara temen2 yang udah lama gak ketemu. Menjalin silaturahmi lagi...


Walaupun harus sedikit mengorbankan waktu dengan keluarga karena acaranya diadakan di hari sabtu.

Ya, GPP lah... ini baru sekali diadain, tahun depan entah akan ada acara seperti ini lagi or gak.


Kita pada pake seragam kantor masing2, Semarang Tengah Dua jadi pasukan biru kemarin :)

Asyik lah, pokoknya... seru- seru an ajah :)


Safiamita
Alkisah, di sebuah ruang hati yang sangat luas
Tempat menyimpan banyak cerita dan asa
Ternyata terdapat sebuah ruang hampa
Ruang hampa yang mampu menimbulkan gundah ditengah bahagia
Ruang hampa yang mampu menyemai sedih ditengah tawa
Ruang hampa yang mampu membuat tak pernah merasa lepas seutuhnya
Seandainya ruang hampa itu bisa diusir pergi…
Seandainya ruang hampa itu bisa diganti dengan sesuatu yang lebih berarti…

Hmh…. Let’s find the way to fill it with something worth
Label: 0 komentar | | edit post
Safiamita

Si Cimut lagi seneng banget naik odong-odong...

Klo denger ada yang puter lagu anak2 diluar rumah, mesti dari dalam aja udah teriak2, "Mas..mas.." maksudnya panggil si abang odong2 yang lewat biar berhenti, hehe...
Gak ada temennya naik odong2 pun dia cuek bebek aja, naik sendiri dan gak mau turun :)
Safiamita
Dasar hukum poligami disebutkan dalam surat an-Nisa' ayat 3 yang artinya:

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekat tidak berbuat aniaya."



Sebenernya udah lama gak mikirin tentang ini, tapi karena kemarin baru liat sebuah keluarga yang menjalani poligami... yaaa.... jadi terpikir lagi..

Aku pun tidak akan menggugat hukum Tuhan tentang poligami, karena Dia pasti tau yang terbaik untuk ciptaan-Nya.

Tetap salahnya ada di manusia yang menjalankan hukum tersebut..

Menurutku, hukum poligami itu dimungkinkan karena adanya alasan2 khusus, yang paling utama mungkin adalah untuk menghindari perzinahan.

Tapi aku bukan ahlinya untuk membahas itu semua, yang aku ingin ceritakan cuma tentang apa yang tertangkap oleh mataku, akibat dari poligami yang dijalankan oleh para pria yang seharusnya kurang berkompeten untuk melakukan poligami tersebut...

Seperti si Ibu yang aku temui kemarin itu sudah dimadu oleh suaminya selama 10 tahun...

Tapi dari cara dia bercerita, seakan-akan kejadian itu baru terjadi kemarin... Kalau ketika dia sedang hamil anak kedua (10 tahun lalu), sang madu mendatangi rumahnya lalu melempar batu ke kaca jendela rumahnya. Betapa kejadian itu begitu itu melekat dihati dan pikirannya serta anak-anaknya...
Kebetulan yang aku temui kemarin itu Istri tua.

Dilain episode hidup, dulu pernah juga ketemu sama seorang wanita yang berperan sebagai istri muda...
kebetulan si mbak yang bantu2 dirumah waktu di Lampung dulu, menjadi madu dari seseorang.
Tapi dari cerita2nya juga gak enak menjadi madu, suami jarang pulang, perekonomian keluarga sulit...
Inti ceritanya sama lah, dari cerita mereka gak ada yang merasa bahagia, semua merasa menderita...
dari segi ekonomi, kasih sayang, intensitas pertemuan, dll...

Jadi, kupikir.. untuk para bapak2 yang ingin membagi kasih sayang, berpikirlah yang matang. Apa niat utama yang mendasari untuk melakukan poligami? Apa yang dicari dari semua itu? Benarkah akan mendapat kebahagiaan dari melakukan poligami? atau hanya kesenangan yang semu saja karena semata2 memperturutkan nafsu?
Bisakah benar2 bahagia apabila diatas kebahagiaan itu ada yang merasa terluka? terutama perasaan dari istri pertama dan anak2 yang akan membekas seumur hidup mereka?

Ah, mungkin aku saja yang terlalu apatis ya? ada juga cerita tentang keluarga poligami yang bahagia, antar istri hidup rukun, saling membantu mengurus suami mereka, trus tinggal di rumah yang jaraknya berdekatan atau bahkan yang berkumpul disatu rumah ?

Bisa saja...

Tapi aku baru hanya bisa baca kisahnya di majalah, belum pernah menemui kisahnya dengan mata kepala sendiri.

Kembali ke ceritaku tentang si Ibu...
Ada yang bilang gini ke si Ibu yang istri pertama, " ya sudah, diikhlaskan saja... nanti dapat banyak pahala dari keikhlasan itu"

Hemh.... yaa. klo nasi udah jadi bubur mau diapain lagi. Tapi klo masih bisa memilih, dan aku yang dibilangin gitu, aku pasti jawab, "aku pilih ladang amal yang lain aja deh buat depetin pahala yang lebih banyak. Masih banyak ladang amal yang lain."
Trus apa enaknya dimadu atau menjadi madu?
kenapa madu yang harusnya manis kenapa jadi berubah rasa menjadi pahit?
Yeah... it's just a personal opinion. Boleh kan?
Safiamita



Dari semalem si Adek Bila ngeluh gak bisa napas karena flu... tapi tadi pagi malah bawa2 es batu sambil diminum ama dia, terjadilah percakapan berikut..

Bunda : Adek, kok malah minum es?
Bila : Iya, gak pa pa
Bunda : Adek kan lagi sakit, nanti tambah sakit lho...
Bila : enggak kook..
Bunda : minum es batu itu bisa bikin batuk pilek..
Bila : Bunda, yang bikin es batu ini tu, mbak tik....
Bunda : Hehehe.. (anak zaman sekarang yaa.. )
Safiamita
Temen-temen yang mutasi

Antri makan siang :)

Barisan Ibu-ibu

Mutasi lagi.. mutasi lagi... kali ini pengangkatan pertama fungsional.
Temen-temen perginya agak jauh... ada yang ke Kalimantan, Bekasi dan Padang.
Harus meninggalkan anak istri untuk melaksanakan tugas negara...
Smoga tercatat sebagai sebuah amal kebaikan untuk mereka semua, amiin...
Yah, gak tau deh harus bilang apa lagi selain hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka semua...
Karena sekarang diri sendiri juga sedang deg-degan menunggu mutasi es. IV yang katanya bentar lagi keluar....
Berharap yang terbaik untuk sang suami, smoga bisa masuk semarang jadi gak repot pindah-pindah lagi, amiin.....

Safiamita

Ayah berfoto di taman Dino

Taman Sesat yang tidak menyesatkan...


Tempat makannya, bisa sambil mancing...



Taman Dino : Arena bermain anak di area Ngrembel Asri

Ayah ama bunda curang nih... ke ngrembelnya gak ngajak si kecil-kecil...
Maaf ya, nak... soalnya perginya gak niat sih..
Rancananya bunda mau kuliah di hari minggu, eh ternyata salah jadwal. Kirain masuknya jam 2 ternyata mulainya jam 12... hehe... (emang dasar gak niat kuliah ya?)
Trus ama Ayah mutusin buat jalan2 ke Gunung Pati, rencananya mau nyari duren...
ujung2nya gak jadi juga beli durennya....
Eh, dijalan nemu ngrembel Asri yang udah lama direkomendasiin ama temen2 buat dikunjungi.
Ya, untuk saat ini dianggap sebagai survey aja, kapan2 kan bisa jalan2 lagi kesana sama anak2 yaaa...
Lumayan menyenangkan buat anak-anak. ada kolam renang, flying fox, kolam pasir ( kakak ama mbak Bila pasti seneng nih)... ada taman sesat yang dibuat dari bambu, ada juga kuda poni kecil buat ditunggangi...
Semuanya itu ada di Taman Dino. Masuk taman Dino, kita harus bayar Rp. 5.000/orang. Klo untuk kolam renangnya, kayaknya harus bayar lagi deh..
Kita cuma bentar disana, jd gak dapet banyak informasi :)


Safiamita
Hasil Karya Kakak :)
Pernah berteman dengan sebuah bintang?
Aku pernah merasa klik dengan sebuah bintang..
Bintang yang bersinar terang
Merasa tenang dengan memandang walau hanya dari kejauhan
Merasa nyaman didalam sepi karena ada kerlipnya yang menemani
Kupikir bintang itupun merasa senang ku pandang dan ku temani..
Tapi.. Ah, sayang...
Ternyata baru kusadari, itu hanya rasaku sendiri
Sang bintang tetaplah bintang, tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ataupun merasa peduli
Kemudian, perlahan..
Aku belajar melupakan, mengikis harapan..
Lalu merelakan sang bintang tak lagi menjadi bintang dihati ^_^
Hemh... hasil karyanya kakak kayaknya agak kacau ya...
Bundanya minta digambarin bulan dan bintang, malah sekalian ama kakak digambarin matahari dan pelangi. Trus awalnya, langitnya mau diwarnai biru ama dia, tapi ditengah jalan berubah jadi warna jingga ( Tau aja bundanya suka warna jingga). Tapi..., hehe... jadi bingung, itu mau gambar siang apa malam, ya kak?
Sebenernya sudah lama tidak menatap lautan bintang di angkasa malam...
Klo dulu, waktu di Metro, kita sering bareng2 ngobrol dilantai 2 rumahnya mamak (Ibu Kos) gelar tikar sambil memandang lautan bintang. Sambil merenung, betapa kecilnya manusia bila dibandingkan dengan alam semesta... Dari sana bintang terlihat sangat indah, pandangan mata pun gak terganggu oleh kabel2 listrik, dsb karena dibelakang rumah itu hamparan sawah.. Jadi tambah leluasa menikmati bintang di gelap malam :)
Sekarang, mungkin karena tinggal di kota, jadi lebih senang memandang lampu2 yang bertebaran di Semarang Atas, karena kita tinggal di daerah bawah...
Mungkin suatu hari nanti akan bisa lagi menatap bintang-bintang yang bersinar terang :)
Related Posts with Thumbnails

Galeri