Safiamita
Sekedar menceritakan apa yang terlintas, boleh ya?
Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor 22/PJ/2008 tentang Tata Cara Pembayaran dan Pelaporan Pajak Penghasilan PPh Pasal 25 pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa WP yang melakukan pembayaran PPh Ps 25 dan SSP nya telah mendapat validasi dengan NTPN, maka Surat Pemberitahuan Masa (SPT) Masa PPh Pasal 25 dianggap telah disampaikan ke KPP sesuai dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP. Sedangkan untuk WP yang pembayarannya belum online atau setoran pajak PPh pasal 25 nya nihil, harus tetap melaporkan SPT masa PPh Pasal 25 nya ke KPP (ayat 2 nya).
Itu, artinya WP yang PPh pasal 25 nya ada setoran, gak wajib lapor lg ke KPP....
Tapi karena belum banyak WP yang tau, jadi kebanyakan masih pada lapor ke KPP atau kadang2 walaupun sudah diberitahu, mereka tetap ingin melaporkan SPT Masa PPh pasal 25 nya ke KPP dengan alasan biar bisa dapet LPAD (bukti dari KPP) nya. Padahal bukti pembayarannya sudah dapat dijadikan sebagai bukti pelaporan juga dengan syarat tersebut diatas.
Terkadang,
prihatin klo yang datang ke kantor itu bapak2 yang sudah sepuh, untuk melaporkan SPT Masa PPh Pasal 25 nya (yang ada setorannya) padahal seharusnya beliau gak perlu lagi melaporkan itu..
bagaimanapun peraturan tetap harus disampaikan..
perkara nanti WP nya mau tetap lapor atau gak, terserah pada WP nya...
Oh ya, untuk pelaporan SPT Masa PPh pasal 25 OP adalah paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya dan untuk pembayarannya paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Misal, untuk PPh 25 OP Masa September berarti paling lambat dibayar pada tanggal 15 Oktober dan paling lambat dilaporkan tanggal 20 Oktober. Klo sudah bayar, berarti sudah tidak wajib lapor, tanggal pembayaran sudah dianggap sebagai tanggal lapor. Disimpan baik2 aja, bukti pembayaran dari kantor pos atau dari bank. Sedangkan untuk SPT Masa 25 OP yang nihil tetap wajib lapor paling lambat tanggal 20 setiap bulannya. 
Klo tanggal bayar dan lapor tersebut jatuh dihari libur, maka dapat dilaporkan dan dibayar pada hari berikutnya dan tidak akan dihitung terlambat. Contoh nih, tanggal 20 nya tanggal merah, maka WP masih boleh lapor di tanggal 21 nya yang sudah merupakan hari kerja.  
Label: | edit post
Reaksi: 
2 Responses
  1. Amin Says:

    Pemerintah memang sedang giat-giatnya menggalakkan NPWP tapi tetap saja masih mempersulit WP. Seharusnya yg setoran pajak PPh pasal 25 nya nihil tetap boleh tidak lapor. Kalau pph 25 nihil kan berarti WP op ini tidak perlu direpotkan lagi.. Usahanya saja sudah sulit kok masih direpotkan untuk ke kantor pajak.. antri dan waktu untuk datang kesana itu sudah buat mumet.

    Seharusnya pph pasal 25 dibuat lebih mudah, yaitu tidak ada kewajiban untuk lapr pajak tiap bulan untuk WPOP. WP oP dibebaskan untuk angsur pajak kapan sja.. mau tiga bulan sekali atau setahun sekali.. Enggak perlu diancam sanksi denda segala.. Ini akan mempermudah orang untuk membayar pajak. Yg penting bayarnya kan?..

    SSP yg telah mendapat validasi dengan NTPN boleh tidak melapor lagi adalah suatu kemajuan tapi tetap tidaklah mempermudah wajib pajak sepenuhnya terutama yg WPOP nihil dan sebagainya.. Kesulitan lainnya untuk mendapat slip SSP masih sulit walau emamng bisa diprint sendiri tapi ada baiknya slip ini disediakan bebas di seluruh bank di Indoensia seperti halnya slip setroan transsaki Bank. Begitu juga tidak semua Bank bisa menerima SSP adalah satu hal yg masih menyulitkan WPOP.

    Mungkin ada bagusnya pemerintah setiap bulan atau tahun menerbitkan surat tagihan kepada WP OP, seperti halnya tagihan telpon atau listrik sehingga WP op jelas berapa yang harus dia bayar dan supaya tidak lupa serta ada kepastian hukum. Tentu ini membutuhkan keaktifan dari petugas pajak untuk menghitung pajak dari tiap WP OP.

    Tapi yg jelas saya lebih senang kalau SPT pph psl 25 tidak wajib lapor tiap bulan, apalagi yg nihil.. Ada bagusnya tiap WPOP dibebaskan untuk menentukan kapan dia harus lapor SPT masa.

    Intinya pemerintah harus mau lebih repot dalam soal urusan pajak ini dan jangan terlalu merepotkan masyarakat taat pajak.. Buatlah masyarakat merasa nyaman dan tidak perlu takut ini itu salah karena ketidak pahaman.. Masyarakat baik kaya maupun miskin punya hak untuk hidup aman dari teror pajak.


  2. Safiamita Says:

    Buat mas/Bpk amin, makasih ya udah mau sharing :)
    Untuk PPh ps 25 yang ada angsurannya(pembayarannya), boleh kok bayar setiap 3 bulan sekali atau setiap 6 bulan sekali juga boleh,gak harus setiap bulan. tapi dengan syarat harus bayar dimuka. Misal mau bayar untuk bulan maret-sept 2010,berarti bayarnya sebelum tanggal 15 April 2010. Tapi SSP nya tetap harus diisi untuk tiap bulan, jadi ada 6 SSP untuk masing2 masa Mar-sept 2010. Tiap bulan sudah tidak wajib lapor SPT PPh Pasal 25 lagi. Klo untuk menerbitkan surat tagihan setiap bulan... sebenarnya mekanisme sekarang malah sudah lebih mudah ya? WP sudah diberi keleluasaan untuk menghitung jumlah pajak yang harus dia bayarkan, tercantum di SPT Tahunan. nanti dari total pajak terutang setahun, tinggal dibagi 12 untuk angsuran tahun berikutnya, klo tahun berikutnya ternyata kurang bayar, tinggal dibayar untuk PPh pasal 29 nya aja. Direktorat Jenderal Pajak selalu berusaha berbenah diri untuk memberi pelayanan yang lebih baik terhadap wajib pajak. Semoga kedepannya DJP bisa lebih baik lagi. Sekali lagi, terima kasih atas masukannya ya :)


Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails

Galeri